Abu Darda’

0
27

Abu Darda’ membentengi dirinya dari dunia dengan kedua tangan dan dadanya

( Abdurrahman bin Auf)

Kisah Keislaman beliau

Sahabat yang mulia ini bernama Uwaimir bin Malik Al-Khozraji. Sebelum hidayah Islam menembus hatinya Abu Darda’ memiliki berhala yang senantiasa diagungkan serta dilumuri dengan minyak wangi yang termahal dan diberi baju dari kain sutera.

Beliau memiliki sahabat bernama Abdullah bin Rawahah yang terlebih dahulu memeluk Islam. Tanpa kenal lelah lelaki ini berupaya mengentaskan Abu Darda’ dari lembah kesyirikan. Ketika Abu Darda’ sibuk berdagang ditokonya, Abdullah bin Rawahah berkunjung ke rumah dan ditemui Ummu Darda’. Setelah dipersilakan masuk lantas istri Abu Darda’ meninggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Saat itu ia masuk kamar di mana berhala itu diletakkan, dibawanya keluar kemudian dirusaknya hingga hancur berantakan, seraya mengatakan,

Sungguh segala yang disembah selain Allah adalah batil….sungguh sesembahan yang disembah selain Allah adalah batil”.

Ketika istri Abu Darda’ melihat tragedi itu ia pun marah dan menangis, tak lama berselang, sang suami tiba, seketika itu pula api kemarahan menyala dan berkobar, namun akhirnya tersadar menyaksikan berhala yang dipujanya telah hancur lantas berkata,

Kalau berhala tersebut memiliki kebaikan tentu ia bisa membela dirinya dari kejelekan”.

Saat itulah benih-benih keimanan kepada Allah mulai tumbuh. Akhirnya bersama sahabat terbaiknya, beliau menyatakan keislamannya di hadapan Rasul mulia. Abu Darda’ adalah penduduk terakhir dari desanya yang menyambut seruan Islam.    

 

Abu Darda’ Pribadi Penuh Pesona.

Setiap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai keistimewaan tersendiri. Begitu pula dengan beliau, tak kenal lelah mengejar ketertinggalannya untuk belajar Islam, seakan-akan masa mudanya yang kelabu terus memacu semangatnya untuk menjadi pribadi yang meraup banyak kebaikan. Kehidupannya sehari-hari sangat sederhana. Ketika ada orang bertanya,

Dimana perabot dan hartamu ?”, beliau mengatakan,  “Dirumah kami yang disana (di akhirat). Kami kirimkan semua harta dan perabot yang kami punya, kalaupun masih ada yang tersisa disini, tentu sudah aku berikan untuk kalian”.

Hati beliau telah dipenuhi perasaan cinta pada akhirat, hari-harinya sarat dengan dzikir, mengajarkan Kitabullah dan Sunnah Nabinya, dan mengimami sholat jama’ah. Abu Darda’ berkeliling ke pasar-pasar, membuka majlis-majlis taklim dan bermu’amalat dengan manusia dengan akhlak mulia.

Diantara nasehat Abu Darda’ kepada seorang laki-laki adalah : “ Ingatlah Allah saat engkau lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau sempit, jadilah seorang ‘alim atau seorang pengajar, atau seorang pendengar (kebenaran). Jangan menjadi orang keempat ( seorang jahil dan bodoh ), niscaya engkau akan binasa. Jadikan masjid sebagai rumahmu”.

Beliau juga sangat peduli pada orang lain, selalu mendo’akan mereka, Abu Darda’ berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar mendo’akan 70 orang dalam satu sujudku, aku sebut nama mereka satu persatu”. Betapa indah dan mengagumkan akhlak beliau hingga Ummu Darda’ mengatakan “ Sebagaimana engkau melamarku di dunia, akupun akan melamarmu di akhirat”.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah mengirim utusan untuk melamar Darda’ yang ingin dijodohkan dengan Yazid, namun beliau menolak karena ingin putri tercinta menikah dengan pria yang paling baik agamanya, dan beliau takut anaknya terfitnah oleh gemerlap dunia.

 

Wafatnya Abu Darda’

Ketika ajal  menjemput, teman-temannya menjenguk, mereka menanyakan,

Apa yang engkau keluhkan ?” , “Dosa-dosaku!”, jawab Abu Darda’. “ Apa yang engkau inginkan ?  , “Maaf dan ampunan Rabb-ku!”. Lalu beliau mengatakan, “Tolong talqin aku Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. Diulang dan diulanglah kalimat tersebut hingga ia meninggal dunia!

Demikian luar biasa kisah hidup Abu Darda’ yang penuh hikmah, ilmu, dan senantiasa menjadi teladan bagi generasi sesudahnya yang selalu setia pada jalan Islam. Al-Muhaqqiq Al- Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya I’lamul Muwaqqiin mengatakan

Para sahabat adalah orang yang paling baik hatinya, dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya, dibanding dengan yang lain, mereka paling dekat dengan kebenaran, sebab Allah telah memberi keutamaan bagi mereka  hingga mereka memiliki kecerdasan luar biasa, kefasihan berbicara, keluasan ilmu, serta mudah dan cepat dalam memahami persoalan. Bagi mereka hanya sedikit musuh atau bahkan tak ada sama sekali. Mereka senantiasa punya maksud baik dan bertaqwa kepada Allah”.

 

—————–

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Referensi :
  1. Sirah Sahabat ( terjemahan) Abdurrohman Ra’fat Basya, Pustaka Al-Haura’, Yogyakarta 2013.
  2. Majalah Fatawa Vol. III / No.06 / Mei 2007
  3. Manhaj dan Aqidah Ahlus Sunah Wal Jama’ah, Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, Gema Insani Press, Jakarta 1992

Artikel www.muslimah.or.id