Apakah Arak Termasuk Najis?

0
13

Arak adalah minuman keras seperti khamr. Khamr sudah diketahui keharamannya namun para ulama berbeda pendapat tentang kenajisannya. Dalam firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah najis karena termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)

Perbedaan tersebut bermula dari mengartikan kata najis (rijsun) dalam ayat ini, pendapat para ulama terbagi menjadi dua:

  1. Pendapat pertama, makna najis (rijsun) di sini adalah najis hisiyah, maksudnya najis secara lahir, kalau tersentuh tangan maka tangan tersebut harus dicuci, seperti kencing atau kotoran manusia. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalil mereka adalah ayat di atas.
  2. Pendapat kedua, makna rijsun dalam ayat tersebut adalah najis maknawi. Sehingga orang yang memegangnya tidak harus bersuci. Inilah pendapat Rabi’ah, Al Laits, Al Muzani, Asy Syaukani, Ash Shan’ani, Ahmad Syakir, Syaikh Al Utsaimin dan Syaikh Al AlBani.

Dalil mereka sebagi berikut:

  1. Ayat 90 dari surat Al Maidah di atas menjelaskan empat perkara yaitu: khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, bahwa semuanya najis. Telah diketahui bahwa tiga hal selain khamr adalah suci secara lahir, tetapi najis secara maknawi atau najis amali, karena termasuk amalan dan perbuatan syetan. Oleh karena itu, khamr juga dikatakan najis maknawi, dan bukan najis secara lahir, karena kekempat hal tersebut disebutkan bersamaan dalam satu ayat. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah:

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang rijsun (najis) itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al Haj:20)

Yang dimaksud kenajisan berhala pada ayat di atas adalah najis secara maknawi.

  1. Hadits dari Anas bin Malik ra. Bahwasanya ia berkata:

“Aku pernah menjamu suatu kaum dengan minuman di rumah Abu Thalhah. Saat itu khamr mereka adalah Al Fadikh (arak terbuat dari buah kurma). Kemudian Rasulullah saw. Memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan bahwa khamr telah diharamkan. Anas berkata: Maka Abu Thalhah berkata kepadaku, keluarkanlah dan tumpahkanlah. Maka aku keluar lalu aku tumpahkan. Maka khamr mengalir di jalan-jalan kota Madinah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa khamr tidak najis secara hisiyah, tetapi najis secara maknawi, karena dua alasan:

1)      Bahwa hadits di atas menjelaskan bahwa khamr ditumpahkan di jalan-jalan kota Madinah. Kalau seandainya khamr tersebut najis hisiyah, tentunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam akan memerintahkan para sahabat untuk membersihkannya, karena jalan-jalan tersebut akan dilewati orang banyak. Tetapi beliau saw. membiarkan saja. Hal ini menunjukkan bahwa khamr tidaklah najis secara lahiri, tetapi najis secara maknawi.

2)      Setelah turunnya ayat khamr, Rasulullah Saw. Hanya memerintahkan untuk membuang khamr tetapi tidak memerintahkan untuk mencuci botol-botol, atau kendi-kendi atau gelas-gelas yang pernah diisi khamr, tetapi beliau membiarkan saja.  Hal ini menunjukkan bahwa khamr tidaklah najis secara lahir tetapi najis secara maknawi.

  1. Hadist dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

“Suatu ketika seorang laki-laki menghadiahkan sekantong khamr kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, belaiu pun bersabda kepadanya: “Belum tahukah kamu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkannya?” Laki-laki itu menjawab, “Belum.” Kemudian dia berbisik kepada orang yang ada disampingnya, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apa yang kamu bisikkan kepadanya?” Dia menjawab: “Saya memerintahkan supaya menjualnya”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Dzat yang mengharamkan untuk meminumnya juga mengharamkan untuk menjualnya.” Kemudian laki-laki tersebut membuka kantung khamr tersebut dan menumpahkan semua isinya.” (HR. Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa khamr adalah najis maknawi bukan najis secara lahir, karena Rasulullah Saw. Tidak memerintahkan orang tersebut mencuci kantang khamr tersebut.

  1. Pada dasarnya segala sesuatu adalah suci sampai ada dalil yang menyatakan kenajisannya. Karena tidak ada dalil yang menyatakan kenajisannya maka, hukumnya kembali kepada asal, yaitu suci. Maka khamr adalah suci secara lahir, walaupun secara maknawi kotor dan haram untuk dikonsumsi karena perbuatan syetan. Dan tidak setiap yang haram pasti najjis, tetapi setiap yang najis pasti diharamkan, seperti racun haram untuk dikonsumsi tetapi tidak najis, begitu juga emas dan kain sutra diharamkan bagi laki-laki untuk memakainya, tetapi keduanya tidaklah najis, tetapi tetap suci. Begitu juga rokok, hukumnya haram, tetapi kalau kita memegangnya tidaklah tangan kita menjadi najis.

Begitu juga diharamkan untuk menikahi ibu-ibu kita, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

“Diharamkan atas kamu ibu-ibumu.” (QS. An Nisa:23)

Walaupun kita haram menikahi ibu kita, bukan berarti badan ibu itu najis, tetapi ibu tetap suci secara lahir. Begitu juga ketika kita bersalaman dengan orang kafir atau orang musyrik, tangan kita tidaklah najis, karena kenajisan orang musyrik adalah kenajisan maknawi. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (QS. Attaubah:28)

Disadur dari buku Halal dan Haram dalam Pengobatan karya DR. Ahmad Zain An Najah, MA.   

(esqiel/muslimahzone.com)