‘Arasy dan Hati

0
27

Makhluk yang paling suci, paling bersih, [1] paling bercahaya, paling mulia, paling tinggi dzat dan kedudukannya, serta paling luas adalah ‘Arasy; singgasana Allah yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, layaklah jika ‘Arasy dijadikan tempat bersemayam bagi-Nya.

Apa pun yang posisinya sangat dekat dengaan ‘Arasy pasti lebih bercahaya, lebih suci dan lebih mulia daripada sesuatu yang posisinya jauh dari darinya. Oleh sebab itulah, Surga Firdaus disebut sebagai Surga yang paling tinggi, paling mulia, paling bercahaya, dan paling agung; karena memang posisinya paling dekat dengan ‘Arasy, bahkan ‘Arasy adalah atapnya.[2] Dan, apa pun yang  posisinya sangat jauh dari ‘Arasy, maka ia sangat gelap dan sangat sempit. Oleh karena itu, tempat orang-orang yang paling rendah adalah tempat yang paling buruk, paling sempit dan paling jauh dari segala kebaikan.

Allah Ta’ala menciptakan hati dan menjadikannya sebagai tempat bersemayamnya sifat mengenal, mencintai dan menginginkan Allah. Dengan demikian, hati laksana ‘Arasy atau singgasana bagi sifat-sifat yang sangat mulia tersebut, yaitu sifat mengenal Allah, mencintai-Nya dan menginginkan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (Q.S An-Nahl: 60).

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Q.S Ar-Rum: 27).

Allah Ta’ala berfirman pula:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Q.S Asy-Syura: 11).

Sifat mengenal, mencintai, dan menginginkan Allah ini termasuk dalam konteks al-matsalul a’la atau sifat yang sangat mulia. Sifat inilah yang bersemayam di hati seorang mukmin sejati, sehingga hatinya menjadi ‘Arasy atau tempat bersemyam bagi sifat tersebut.

Seandainya saja hati tidak menjadi bagian yang paling bersih, yang paling suci, yang paling baik, dan yang paling jauh dari segala kotoran dan segala hal yang menjijikkan, maka ia sudah tidak layak lagi menjadi tempat persemayaman sifat-sifat yang amat mulia, yaitu mengenal Allah, mencintai Allah, dan menginginkan Allah. Sebaliknya, yang bersemayam di dalamnya ialah sifat-sifat yang terendah (sifat-sifat yang bersifat duniawi); seperti mencintai duniawi, menginginkannya. Akibatnya, hati menjadi sempit, gelap dan jauh dari kesempurnaan dan keberuntungan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa hati itu terdiri dari dua macam.

Pertama: Hati yang laksana ‘Arasy Allah Yang Maha Penyayang;[3] di mana di dalamnya terdapat cahaya, kehidupan, kegembiraan, kebahagiaan, kecerahan, dan perbendaharaan segala kebaikan.

Kedua: Hati yang laksana ‘Arasy Syaitan; di mana di sanalah tempat kesempitan, kegelapan, kematian, kesusahan, kesedihan, dan kecemasan; dan orang yang mempunyai hati semacam ini akan merasa sedih karena peristiwa yang lalu, cemas dengan apa yang akan menimpaa dirinya di masa mendatang, dan resah terhadap apa yang sedang menimpanya kini.[4]

At-Tirmidzi[5] , beserta ulama yang lainnya, meriwayatkan satu hadits dari Nabi Shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

((إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح.)) قالوا : فما علامة ذلك يا رسول الله؟ قال: ((الإنابة إلى دار الخلود، والتجافي عن دار الغرور ، والاستعداد للموت قبل نزوله.))

Jika cahaya telah merasuk hati niscaya hati itu akan merasa lega dan lapang.” Para Sahabat bertanya: “Apakah tanda-tanda yang demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kembali ke negeri abadi (akhirat), menjauhkan diri dari negeri tipu daya (dunia), dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sebelum waktunya tiba.

Cahaya yang merasuk ke dalam hati adalah salah satu pengaruh dari sifat yang paling mulia tersebut. Oleh karena itu, hati pun menjadi luas dan lapang setelah dimasuki cahaya tersebut. Apabila di dalam hati itu tidak ada sifat mengenal dan mencintai Allah, pasti yang ada hanyalah kegelapan dan kesempitan.

 

——————————————————————–

[1] Pada sebagian naskah, yang tertulis adalah lafazh وأظهرها   “yang paling jelas”. Tapi boleh jadi redaksi yang kami cantumkan di atas (paling suci) lebih valid.

[2] Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits:

(( فإذا سألتم الله فسلوه الفردوس ، فإنه أوسط الجنة و أعلى الجنة ، و فوقه عرش الرحمن ،و منه تفجر أنهار الجنة.))

“Maka apabila kamu memohon kepada Allah, mohonlah Surga Firdaus, karena Surga Firdaus itu adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya terdapat ‘Arasy Ar-Rahman. Dan dari surga itulah, sungai-sungai dialirkan.” (HR. Al-Bukhari [no. 7423])

[3] Maksudnya ialah hati yang menjadi tempat bersemayamnya sifat-sifat yang sangat mulia dan agung, yaitu yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan menghendaki-Nya; seperti yang telah diterangkan oleh penulis.

[4] Penulis menjelaskan perbedaan ketiga kalimat ini dalam halaman 60, pada pembahasan Aqidah dan Tauhid.

[5] Hadits ini tidak terdapat di dalam Sunan at-Tirmidzi. Syaikh kami, al-Albani, mengisyaratkan hal itu di dalam kitab as-Silsilatudh Dha’ifah (II/387), lantas beliau menelusurinya secara panjang lebar dan menjelaskan kedha’ifannya. Lihat pula Miftah Daaris Sa’adah (I/464) –dengan tahqiq dan ta’liq saya– karya Ibnul Qayyim

___ 

Diketik ulang dari kitab Fawāidul Fawā`id karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah –rahimahullah

Artikel muslimah.or.id