Berapa Jam Ibadah Anda dalam Sehari???

0
14

Wahai saudariku, jika ada pertanyaan seperti itu maka jawaban apa yang akan kita ucapkan? Satu jam kah? Dua jam, lima jam, atau 10 jam? Atau adakah yang mampu beribadah selama 24 jam sehari? Mampukah kita mempertanggungjawabkan nikmat waktu yang Allah Ta’ala berikan pada kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kedua kaki keturunan Nabi Adam (manusia) di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2416,hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946).

Dalam Hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwasanya, kelak di hari kiamat setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala mengenai 5 (lima) perkara, dan perkara yang mendapat penekanan dengan cara diulang penyebutannya adalah umur dan masa muda, yang tidak lain sesungguhnya hal ini terkait pemanfaatan waktu kita.

Seberapa besar kita meluangkan waktu kita untuk melaksanakan perintah Allah yang terdapat dalam Q.S Adz- Dzariyat ayat ke: 56-58?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨﴾

“(56) Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

(57) Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.

(58) Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi kekuasaan (yang sempurna).

Maka mari kita mencoba mengkalkulasi efektivitas waktu kita untuk ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita dalam hadits yang diriwayatkan  Ibnu Majah No. 4236 yang dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani bahwasanya umur umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampaui umur tersebut.

Seorang laki-laki pada umumnya baligh pada umur 15 tahun, maka kesempatan kita untuk beribadah tinggal 55 tahun. Dalam sehari kurang lebih kita tidur selama 6 jam, atau sekitar ¼  hari, kemudian bekerja atau kuliah selama 8 jam, istirahat dan bercengkrama dengan keluarga atau orang lain 2 jam. Sehingga 16 jam telah habis untuk aktifitas tersebut. Kemudian sholat, kita misalkan 10 menit untuk setiap shalat fardhu (sudah termasuk dzikir dan berdoa), maka kita kalikan 5, jadilah 50 menit, dan dibulatkan menjadi 1 jam untuk shalat-shalat  nafilah. 3 jam selanjutnya untuk mengerjakan tugas-tugas. Sehingga waktu kita masih tersisa 4 jam.

Pertanyaannya, dimanakah kita dengan waktu tersebut?

Dengan gadget, sosmed, atau dengan kitab-kitab para ulama? Mari renungkan saudaraku, betapa sedikit waktu yang kita sisihkan untuk beribadah kepada Allah, padahal ibadah adalah tujuan diciptakannya kita. Betapa banyak waktu yang terlewatkan dari ibadah. Maka dari itu, kita sangat perlu mengetahui definisi ibadah agar hari-hari kita penuh dengan berbagai macam ibadah.

Ibnu Taimiyah berkata : “Ibadah ialah sesuatu yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridhoi Allah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, lahir maupun batin (ibadah hati)”.

Ibadah itu meliputi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (harapan khusus), dan rahbah (takut yang khusus) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan. Oleh karena itu, mari kita perbaiki dan selalu awasi niat kita dalam melakukan segala aktivitas, karena

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mulai dari bangun tidur, mengingat Allah dengan membaca doa bangun tidur, dan melakukan sunnah-sunnah ketika bangun tidur, lalu sholat, membaca dzikir pagi, masuk dan keluar kamar mandi dengan berdoa, memakai dan melepas pakaian dengan berdoa, keluar rumah dengan berdoa, dengan niat beribadah pada Allah, maka selama di luar rumah tersebut mindset kita adalah untuk beribadah kepada Allah, murah senyum, ringan tangan, selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabatullah), membasahi lisan kita dengan selalu berdzikir kepada Allah, bertawakkal atas segala sesuatu kepada-Nya saja, meniatkan setiap tidur kita untuk memperkuat badan agar lebih khusyu’ melaksanakan ibadah-ibadah berikutnya, meniatkan makan dan minum kita untuk hal serupa, karena kaidah fiqih mengatakan:

وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالمَقَاصِد

Hukum perantara sama dengan hukum tujuan

وَاحْكُمْ بِهَذَا الحُكْمِ لِلزَّوَائِدِ

Hukumilah dengan hukum tersebut untuk perkara penyempurna

Ketika tujuannya adalah untuk melaksanakan kewajiban yang berpahala, maka perantaranya ketika dilakukan juga akan mendapat pahala. Selain itu dengan melakukan setiap sunnah-sunnah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan baik itu berupa doa-doa, maupun selainnya. Kita harus berusaha senantiasa memenuhi waktu kita dengan kebaikan karena hanya ada dua pilihan, diisi dengan kebaikan atau keburukan. Ketika kita lalai mengisi waktu kita dengan kebaikan, niscaya dikhawatirkan kita terjerumus kedalam keburukan atau kita melewatkan banyak kebaikan dengan meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga setelah membaca artikel ini, kita menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kualitas waktu kita dalam beribadah kepada Allah.

 

——————————-

Penulis: Dian Pratiwi

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Referensi :
  1. Al-Qur`an Al-Karim
  2. Ebook kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah karya Syaikh Nashiruddin Al-Albani.
  3. Syarah hadits Al-Arba’in, An-Nawawi
  4. Kitab Al-Qowa’idul Fiqhiyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

 

Artikel muslimah.or.id