Fakta Sejarah Wali Songo

0
69
#sebarkan #sharingsebanyakbanyaknya
Banyak nya cerita bahwa islam indonesia dibawa dari china , ada beberapa fakta yang sangat mengejutkan, islam di bawa oleh para ulama yang menjunjung tinggi nilai ke islaman, bukan agama di luar islam yang menghinakan alquran.
Berikut ini sejarah asli penyebaran agama di pulau jawa oleh para wali songo.
Di Pulau Jawa, penyebaran Islam dilakukan oleh Walisanga. Walisanga merupakan sebuah dewan ulama yang terdiri atas sembilan ulama yang tersebar di seluruh Jawa. Keanggotaan dalam dewan Walisanga bersifat tetap. Apabila ada seorang wali yang meninggal atau dikeluarkan, maka akan ada satu orang penggantinya. Kesembilan anggota Walisanga diwajibkan untuk menggiatkan penyebaran Islam di Jawa. Sembilan wali tersebut adalah sebagai berikut.
1) Sunan Gresik
Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gresik berasal dari Persia. Beliau tinggal di daerah Gresik, sehingga diberi gelar Sunan Gresik. Sunan Gresik diyakini sebagai pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. la berdakwah secara intensif dan bijaksana. Sunan Gresik bukan orang Jawa, namun ia mampu mengantisipasi keadaan masyarakat yang dihadapinya dan menerapkan metode dakwah yang tepat untuk menarik simpati masyarakat terhadap Islam. Upaya menghilangkan sistem kasta dalam masyarakat pada masa itu menjadi objek dakwah Sunan Gresik.
2) Sunan Ampel
Ali Rahmatullah atau sunan Ampel berasal dari Campa, Kamboja. Beliau tinggal di daerah Ampel, sehingga lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Sunan Ampel memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta (dekat Surabaya). Dengan kegiatan itu ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Sunan Ampel adalah seorang wali yang tidak setuju terhadap adat istiadat masyarakat Jawa pada masa itu, seperti kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan.
3) Sunan Giri
Nama asli Sunan Giri adalah Raden Paku. Selain menjadi murid Sunan Ampel, ia juga memperdalam ilmu agama di Pasai yang ketika itu menjadi tempat perkembangan ilmu ketuhanan, keimanan, dan tasawuf. Raden Paku memperoleh ilmu agama di Pasai sehingga dianugerahi gelar ‘ain al-yaqiin (keyakinan yang nyata). Karena itulah ia dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri.
4) Sunan Bonang
Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel. Beliau tinggal di Desa Bonang, Tuban. Sunan Bonang dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang menggemari wayang dan musik gamelan. Untuk itu ia menciptakan gending-gending yang memiliki nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimat syahadat (syahadatain), sehingga musik gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan istilah ‘sekaten’.
5) Sunan Drajat
Beliau tinggal di Drajat, Sedayu. Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Kosim Syarifuddin. la adalah putra Sunan Ampel dan saudara Makhdum Ibrahim. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah sosial. Ia banyak membantu yatim piatu, fakir miskin, orang sakit, dan orang sengsara. Sunan Drajat juga menggunakan media kesenian dalam berdakwah. Untuk itu ia menciptakan tembang Jawa (tembang pangkur) yang hingga kini masih digemari.
6) Sunan Gunung Jati
Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah. Beliau berasal dari Persia dan menyebarkan Islam di daerah Jawa Barat. Beliau tinggal di Gunung Jati, Cirebon. la juga merupakan pendiri dinasti Kesultanan Banten yang dimulai dari putranya, Sultan Maulana Hasanuddin. Atas prakarsa Sunan Gunung Jati, dilakukanlah penyerangan ke Sunda Kelapa pada 1527 di bawah pimpinan Fatahillah, panglima perang Kesultanan Demak.
7) Sunan Kudus
Jaffar Siddiq atau Sunan Kudus adalah wali yang tinggal di Kudus. la adalah putra Raden Usman Haji yang menyiarkan Islam di daerah Jirang Panolan, Blora. Sunan Kudus memiliki keahlian khusus dalam ilmu agama. Sunan Kudus banyak didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai wilayah karena keahlian yang dimilikinya. la juga dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus. Karena itu, ia menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin pemerintahan di wilayah itu.
8) Sunan Kalijaga
Raden Syahid yang terkenal sebagai Sunan Kalijaga adalah putra dari seorang penguasa Tuban yang kemudian memilih menjadi ulama dan menyebarkan Islam di daerah Kadilangu, Jawa Tengah. la bernama asli Raden Mas Syahid. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatika (bupati Tuban). Nama Kalijaga berasal dari bahasa Arab qadi zakayang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kesucian.
9) Sunan Muria
Umar Said lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria. Beliau tinggal di kaki Gunung Muria. Nama asli Sunan Muria adalah Raden Said atau Raden Prawoto. la adalah putra Sunan Kalijaga. Sunan Muria menggunakan kesenian sebagai sarana berdakwah. Dua tembang yang diciptakannya dan sangat terkenal adalah sinom dan kinanti.
UPDATE

Terdapat perbedaan pendapat dalam menyingkap tabir masuknya Islam ke tanah Indonesia. Setidaknya terdapat tiga teori atau pendapat yang  cukup populer mengenai hal tersebut.  Pendapat pertama menyebutkan, Islam masuk ke Indonesia dari Persia pada abad ke XIII . Sesuai dengan bukti-bukti sejarah adanya beberapa bentuk upacara simbolik keagamaan seperti pada peringatan 10 Muharram sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah Saw, di beberapa tempat di Sumatra.

Pendapat kedua yang diusung oleh Snouck Hurgronje menjelaskan, Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Daerah Gujarat, Bengali, dan Malabar merupakan asal masuknya Islam di Nusantara. Teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal yaitu pada abad XII dan XIII.

Berbeda dengan pendapat pertama dan kedua, pendapat ketiga mengungkapkan, Islam datang langsung dari Arab pada abad ke VII. Islam masuk ke Indonesia pada masa abad pertama Hijriah bahkan pada masa Khulafaur Rasyiddin. Islam Ekspedisi ke Indonesia telah dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya. Dalam sumber-sumber literatur Cina menyebutkan bahwa menjelang seperempat abad VII, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatra. Manakah teori atau pendapat yang sebenarnya?

Masuknya Islam di Mata Para Ahli

Seorang ahli sejarah bernama Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang be­rarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubung­kan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Bahkan para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina, banyak barang perunggu Cina pada masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering di­jarah.

Di lain pihak HAMKA mengungkapkan, seorang pencatat sejarah Tiongkok pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang berdiam di pesisir Barat Sumatera. Penemuan tersebut telah men­gubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA menekankan temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown Univer­sity di Amerika.

Hal yang sama juga diungkapkan G.R. Tibbetts  yang tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah, di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Saat Rasulullah Hidup, Islam Telah Masuk Indonesia.

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada masa Rasulullah masih hidup. Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diamb periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama ta­hun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Sury­anegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang be­rasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dike­nal sebagai Teori Makkah. Islam di Nusantara bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) karena para pedagang yang datang dari India, sebenarnya berasal dari Jazirah Arab yang sebelumnya singgah dulu di India.

Apabila dilihat di atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab men­jadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera mau­pun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Berdasarkan pemaparan dan hasil riset dari sejumlah ahli sejarah di atas sekaligus menepis pendapat dari Snouck Hurgronje yang menyebutkan bahwa Islam masuk Nusantara (Indonesia-red) pada abad ke-14. Padahal Islam di Indonesia telah masuk saat Rasulullah SAW masih hidup, yakni di abad ke-7.

Perlu ditekankan, walaupun terdapat perbedaan pendapat tentang kapan masuknya Islam di Indonesia sebagaimana tertera di atas, namun para ilmuwan sepakat bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia tidak dilakukan dengan kekerasan atau kekuatan militer. Penyebaran Islam tersebut dilakukan secara damai dan berangsur-angsur melalui perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan pesantren (dalam hal ini mirip mandala dalam agama Hindhu di Jawa), penyebaran da’i, perkumpulan tarekat, penyuluhan pertanian, dan sebagainya. Wallahu’alam. [ ]

update: beritalangitan.com