Jika Kalian Bersyukur, Aku Tambah Nikmatku Pada Kalian

0
20

Setan Membuka Hakikat Penting

Ketika diperintahkan Allah Ta’ala sujud kepada Nabi Adam Alaihis Salam, setan menolak melaksanakan perintah ini. Akibatnya, ia diusir, dimasukan ke dalam jajaran makhluk terkutuk, dan diancam masuk neraka. Setan tidak hanya mendengar perintah pengusiran dirinya. Tapi, dengan sikap pongah, yang malah menunjukan kebrengsekannya, ia berjanji akan menyesatkan anak keturunan Adam Alaihis Salam, yang menurutnya menjadi biang keladi pengusirannya dari surga. Setan berkata,

“Saya pasti (meghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya pasti mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raaf: 16-17).

Di sini, setan membuka hakikat penting yang diketahui banyak orang, yaitu mayoritas besar manusia tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala dan orang yang selamat di antara mereka ialah orang yang bersyukur.

Definisi Syukur

Kalimat, “Syakarat Ad-Dabbatu,” maksudnya, unta itu gemuk. Unta dikatakan gemuk jika terlihat padanya tanda-tanda makanan yang telah dimakannya. Unta dikatakan syakur jika terlihat padanya kegemukan melebihi kadar porsi makanan yang telah dimakannya.

Hai, Keluarga Dawud, lakukanlah syukur kepada Allah!

Allah Ta’ala tidak berfirman kepada Nabi Dawud Alaihis Salam, “Ucapkan syukur kepada Allah,” namun berfirman, “Lakukan.” Ini menandaskan syukur tidak terealisir dengan sempurna, kecuali dengan mengamalkan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, syukur ialah realisir ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Allah Ta’ala dengan lidah, atau komat-kamit setelah shalat, atau setelah makan kenyang.

Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Salam Menerjemahkan Syukur ke dalam Tindakan Nyata

Aisyah Radhiyallahu Anha merasa heran dengan qiyamul lail Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkak. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah berkata,

“Engkau masih berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang.” Rasulullah Sahallallahu Alaihis Sallam bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallahu Alaihis wa Salam tidak memahami syukur sebatas pujian dengan lidah. Menurut beliau, syukur ialah upaya seluruh organ tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhai pemberi nikmat (Allah).

Seluruh makna syukur ini dirangkum Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah dengan perkataannya,

“Syukur ialah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah Pada lidah hamba-Nya dalam bentuk pujian, di hatinya dalam bentuk cinta kepada-Nya, dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk.”

Bentuk konkrit syukur ialah lidah tidak menyanjung selain Allah Ta’ala dan di hati tidak ada kekasih kecuali Dia. Kalaupun seseorang mencintai orang lain, ia mencintainya karena Allah. Lalu, cinta ini dialihkan ke organ tubuh, kemudian seluruh organ tubuh mengerjakannya apa saja yang diperintahkan kekasih (Allah) dan menjauhi apa saja yang Dia larang. Itulah figur orang syukur sejati.

Dan terhadap Nikmat Tuhan, Hendaklah Kamu Menyebut-nyebutnya!

Yang dimaksud dengan menyebut-nyebut pada ayat di atas ialah menyebut nikmat Allah Ta’ala pada diri seseorang. Misalnya, dengan mengatakan, “Allah memberiku nikmat ini dan itu.” Atau makna lainnya ialah berdakwah ke jalan Allah Ta’ala, menyampaikan risalah-Nya, dan mengejar umat. Yang benar, ayat di atas mencakup kedua makna itu.

Seseorang perlu ingat saat dirinya berada dalam kesesatan dan jahiliyah, lalu bagaimana Allah Ta’ala menyelematkannya dari kegelapan pekat itu kepada cahaya terang. Ini seperti yang dilakukan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu. Ia ingat saat dirinya berkubang dalam jahiliyah dan makan “Tuhannya” dari kurma. Kemudian, ia tertawa ingat masa lalunya yang “lucu” itu.

Setelah menjadi kaya. Orang Muslim harus ingat bagaimana kondisi dirinya saat miskin. Ia mesti ingat hari-hari saat ia berada dalam ujian dan ruang geraknya dibatasi sebelum pinda ke tempat lain, atau sebelum situasi berubah. Ia ingat bagaimana badai ujian berlalu, lantas Allah Ta’ala menyelamatkannya dari badai itu. demikianlah, ia ingat nikmat-nikmat seperti itu, lalu ditindak-lanjuti dengan berdakwah ke jalan Allah Ta’ala.

Syukur Umum dan Syukur Khusus

Setelah keterangan diatas, maka menjadi jelas bagi kita bahwa syukur terbagi ke dalam dua jenis: syukur umum dan syukur khusus.

Syukur umum terkait dengan dunia. Misalnya bersyukur atas nikmat seperti pakaian, makanan, harta, kesehatan, dan kendaraan. Sedangkan syukur khusus terkait dengan akhirat. Misalnya bersyukur atas nikmat iman, tauhid, hidayah, bimbingan hingga bisa beribadah, istri shalihah, anak-anak shalih, dan urusan akhirat lainnya. Tragisnya, sebagian besar manusia hanya mengerjakan syukur umum, karena menurut mereka, manfaatnya bisa dirasakan langsung. Memang, seperti itulah watak manusia.

Syarat-Syarat Syukur

Ibnu Qayyim berkata, “Syukur seorang hamba terasa lengkap jika ia mematuhi tiga syarat dan ia dikatakan orang bersyukur jika melengkapi ketiga syarat itu:

1.Ia mengakui nikmat Allah pada dirinya.

2.Ia menyangjung Allah atas nikmat itu

3.Ia menggunakan nikmat itu untuk mendapatkan keridhaan-Nya.”

Mengakui nikmat Allah Ta’ala pada diri kita bisa dilakukan dengan cara kita tidak mengklaim nikmat itu kita dapatkan murni karena keahlian, atau pengalaman, atau usaha, atau jabatan, atau status sosial, atau kekuatan kita. Tapi, kita nyatakan nikmat itu murni berasal dari Allah Ta’ala. Ketika Qarun mengklaim nikmat pada dirinya murni ia peroleh karena ilmunya, maka Allah Ta’ala menenggelamkannya beserta istananya ke dalam bumi.

Jika seseorang mengakui nikmat pada dirinya berasal dari Allah Ta’ala, otomatis ia menyanjung-Nya atas nikmat-nikmat itu. jika seseorang menyakini Allah Ta’ala pemberi nikmat dan menyanjung-Nya, maka ia tidak etis menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Misalnya dengan cara ia mengembangkan hartanya secara ribawi, atau seseorang diberi kesehatan tapi ia mendzalimi orang lain.

Jika kita melengkapi ketiga syarat syukur itu, Allah Ta’ala pasti menambah nikmat-Nya pada kita, karena Dia berfirman:

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, Kami pasti menambah (nikmat) kepada kalian.” (Ibrahim: 7)