Kompetisi Hakiki Versus Perlombaan Palsu

0
4

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah khawatir bilamana ummatnya mengalami kefakiran alias kemiskinan di dunia. Justeru yang beliau khawatirkan bilamana ummatnya menjadi berlimpah harta kekayaan akibat terbukanya pintu-pintu dunia.

فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan menimpa atas kelian. Yang aku khawatirkan atas kalian ialah bila dilapangkannya dunia sebagaimana dilapangkannya atas orang-orang sebelum kalian. Sehingga kalian berlomba mengejarnya sebagaimana mereka dahulu berlomba mengejarnya. Lalu kalian dihancurkan sebagaimana mereka dahulu dihancurkan.” (HR Bukhary 10/413)

Namun ironisnya dewasa ini justru kebanyakan manusia –termasuk sebagian kaum muslimin- merasa khawatir bila dirinya ditimpa kefakiran dan merasa aman bila dunia terbuka baginya sehingga hartanya berlimpah. Bahkan obsesi menjadi kaya dihembuskan menjadi mimpi yang seolah wajib dimiliki oleh ummat bila ingin maju. Jarang sekali ditemukan seorang muslim yang menjadi khawatir dan resah bila hartanya bertambah banyak. Padahal cara pandang seperti yang diarahkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sangat on line dengan logika keimanan seorang muslim mengenai hakikat kehidupan. Di dalam Al-Qur’an jelas tegas Allah subhaanahu wa ta’aala firman-kan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau. Sedangkan kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Oleh karena itulah ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mendefinisikan hakikat cerdas menurut Islam, beliau mengkaitkannya dengan kehidupan setelah kematian.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَاوَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ (الترمذي)

“Orang yang paling cerdas ialah orang yang banyak menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang yang paling lemah ialah barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan (diampuni) Allah.” (At-Tirmidzi 8/499)

Atho bin Rabah rahimahullah menyebutkan adanya tiga manfaat dzikrul-maut (mengingat kematian): (1) Bersegera untuk bertaubat; (2) Rela dengan yang sedikit dan (3) Tidak terlibat dalam kompetisi menguasai dunia bersama ahli dunia lainnya.

Seorang mu’min sejati tidak merasa perlu terlibat dalam kompetisi merebut apalagi menguasai dunia. Sebab ia tahu bahwa dunia merupakan suatu tempat persinggahan sementara yang sangat tidak pantas dan tidak cukup berharga untuk diperebutkan. Bahkan ia sangat memperhatikan bagaimana Allah ta’aala gambarkan kesenangan dunia sebagai suatu fatamorgana yang menipu. Berarti perlombaan merebut dunia merupakan sebuah perlombaan artifisial alias palsu.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

”Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran ayat 185)

Ia sangat khawatir jika dirinya terlibat dalam mengejar dunia maka ia akan kehilangan hak dan kesempatan untuk meraih kesuksesan hakiki di akhirat kelak nanti. Seorang mu’min bilamana harus terlibat secara serius dalam suatu kompetisi, maka ia memilih untuk mengikuti kompetisi merebut kapling surga di akhirat seperti yang Allah ta’aala tawarkan di dalam Al-Qur’an. Inilah kompetisi yang hakiki.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

”Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS al-Muthaffifin ayat 22-26)

Semua bentuk kompetisi yang diadakan oleh penduduk dunia adalah dalam rangka merebut keuntungan dunia berupa kesenangan yang memperdayakan. Bahkan semua bentuk perang antar bangsa dan negara adalah untuk kepentingan dunia. Tidak ada satupun perang yang berlangsung kecuali untuk memperebutkan keuntungan dunia. Entah itu dalam rangka menguasai minyak, bumi atau sumberdaya alam lainnya. Oleh karenanya di dalam ajaran Islam satu-satunya perang yang dibenarkan adalah al-jihad fi sabilillah. Sebab semua bentuk perang di dunia adalah untuk dunia. Hanya al-jihad fi sabilillah satu-satunya perang untuk (meraih keridhaan) Allah ta’aala serta kebahagiaan hakiki surga di akhirat. Bahkan Allah ta’aala menggambarkan orang yang berperang di jalan-Nya sebagai fihak yang berjual-beli dengan diri-Nya, surga sebagai bayarannya.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah ayat 111)

Itulah rahasianya mengapa para mujahidin fi sabilillah lebih mengutamakan mati syahid dalam jihad mereka daripada keharusan meraih kemenangan dunia. Betapapun, sejarah mencatat begitu banyaknya kemenangan yang diraih pasukan Islam sehingga membuka negeri-negeri tersebut untuk menerima cahaya kebenaran Al-Islam.