Mendamaikan ‘Perang Saudara’

0
14

Ketika kakak sedang asyik bermain dengan mainan barunya, tiba-tiba adik merebutnya dengan paksa. Kakak berusaha mempertahankan mainannya tetapi adiknyapun tak kalah kuat mencengkeramnya sambil merengek. Jengkel dengan tingkah sang adik, maka kakakpun ambil jalan pintas dengan memukul keras-keras adiknya.

Siapa yang salah dalam kejadian ini? Dalam kaca mata orang dewasa, adik kecil dianggap tak salah karena memang belum mengerti. Sifat egosentrisnya masih terlalu besar sehingga merasa ingin memiliki barang apa saja yang mereka sukai. Tetapi di mata si kakak (yang juga masih kecil), adiknya jelas-jelas salah karena merebut mainan miliknya.

Tentu saja kakak tak mengerti tentang sifat egosentris adiknya. Yang ia pahami bahwa mainan itu adalah miliknya dan ia berhak mempertahankannya.

Ibu yang merasa terganggu dengan tangis adik kerap mengambil jalan pintas dengan menyuruh kakak mengalah. Kebijakan ibu seperti ini jelas berat sebelah, ia kurang bisa menghargai pola pikir kakak yang masih kecil juga. Jika ibu memaksa kakak untuk selalu mengalah, banyak akibat negatif yang akan terjadi, seperti:

  • Kakak merasa dirinya tak memiliki harga diri dimata ibu
  • Adik tak pernah belajar mengetahui hal yang benar
  • Kakak menyimpan dendam pada adik dan membalasnya nanti jika ada kesempatan
  • Jika terjadi perkelahian lagi, adik cenderung mengandalkan tangisnya untuk mengadu keapda ibu agar dibela.

Ibu yang bijaksana akan bertindak lain. Ia akan coba memahami pertengkaran ini dengan melihat persoalan dari kecamata kedua pihak, yaitu dengan memahami bagaimana perasaan adik, juga perasaan kakak.

*Dikutip dari Medidik Dengan Cinta karya Irawati Istadi

(esqiel/muslimahzone.com)