Miss World Ancaman Serius Moral Bangsa

0
14

Oleh, Muh. Abid Fauzan

(Guru Dan Pemerhati Moral)

Indonesia, untuk kali pertama di pilih menjadi tuan rumah Miss World 2013. Sekitar 130 kontestan akan berkompetisi untuk meraih mahkota wanita tercantik sejagad. Acara puncak akan dilaksanakan di SICC Bogor pada tanggal 28 September 2013. Hingga Jumat (5/4/2013) sudah 39 kontestan konfirmasi untuk mengikuti ajang kontes kecantikan itu.

Ajang yang akan digelar kurang lebih 2-3 bulan di Indonesia ini mendapat penolakkan di banyak pihak. Dari referensi penulis, umat Islam Bogor yang terdiri dari para ulama, umara dan aktivis dakwah dari berbagai ormas dan lembaga Islam dengan tegas menyatakan penolakannya atas rencana digelarnya Miss World 2013, baik di Bogor maupun di seluruh wilayah Indonesia.

Para pimpinan ormas Islam itu dalam pernyataan sikapnya, meminta kepada pihak pemerintah, melalui Walikota Bogor, Bupati Bogor, Kapolres Bogor, Gubernur Jawa Barat, Kapolda Jawa Barat, maupun instansi lainnya agar tidak mengijinkan acara Miss World tersebut.

Beda Budaya

Penolakan ajang ini sangat jelas karena bertentangan budaya dan moral ketimuran Indonesia. Masyarakat Indonesia sangatlah menghargai perempuan. Ini bisa di lihat dengan padangan secara umum masyarakat yaitu sosok perempuan di hargai dan di muliaan karena cara berpakaian yang sopan, keterjagaan dalam bersikap, kelembutan dalam perilaku, ketaatan kepada agama, orangtua, dan suami. Kecerdasan sebagai pendamping suami dan kesabaran dalam mendidik putra-putri.

Sedangkan menurut penulis, dalam pandangan Barat, mereka memandang perempuan dengan pandangan terbuka. Hingga terbuka segala-galanya, pakaiannya, dan auratnya dilihat sebagai simbol keindahan. Padahal inilah simbol kebinatangan. Coba kita perhatikan bukti bahwa kontes Miss World sangat terpengaruh pandangan barat. Pada 15 November 2012, sebuah situs hiburan di Indonesia menampilkan judul berita: “Kriteria Miss Indonesia 2013 Ikuti Standar Miss World”.  Salah satu anggota tim juri audisi Miss Indonesia 2013 menyatakan: “Karena ini ajang kecantikan, bagaimanapun yang paling penting adalah fisik perlu diperhatikan, seperti wajah, tinggi badan dan proposional berat tubuh.”

Pemerintahan yang saat ini sedang menggalakkan pendidikan karakter bangsa, pemerintah seharusnya tidak mendukung adanya acara yang sangat merusak karakter bangsa. Seperti contonya kontas miss world yang jelas-jelas mempertontonkan aurat wanita. Kita tak bisa menutup mata akan meraja lelanya pelecehan seksual terhadap perempuan dan seks bebas.

Trilyunan rupiah dihabiskan dan ribuan guru dikerahkan untuk mewujudkan generasi berkarakter. Kurikulum baru juga sedang disusun. Tujuan Pendidikan membentuk manusia beriman dan bartaqwa dan seterusnya, tapi para perempuan di negeri ini mempertontonkan auratnya baik di media bahkan di ruang publik. Ironis!

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat sepanjang 2008 hingga 2010, kasus perampasan hak hidup melalui aborsi terus meningkat. Tapi, yang lebih mengkhawatirkan, 62 persen pelakunya adalah anak di bawah umur atau dibawah 18 tahun. Pada 2008 ditemukan dua juta jiwa anak korban aborsi. Tahun berikutnya naik 300 ribu jiwa, sedangkan pada 2010 jumlahnya naik lagi 200 ribu jiwa. Sekretaris Jenderal Komnas PA, Samsul Ridwan, mengatakan, selama kurun waktu dua tahun itu, kenaikan kasus aborsi mencapai 15 persen setiap tahunnya.Meningkatnya angka aborsi salah satunya adalah maraknya tayangan yang berbau pornografi yang disajikan di media.Selama 2011, Komnas PA menerima 22 kasus pengaduan tentang pornografi, yang dilakukan siswa SMP dan SMA. Sementara itu, berdasarkan data Yayasan Buah Hati, sebanyak 83,7 persen anak sekolah dasar kelas IV dan kelas V sudah kecanduan pornografi. Samsul Ridwan menyatakan bahwa pendidikan seks dini memang penting  tapi, yang lebih penting adalah budi pekerti, dan pendidikan agama.

Membaca hal tersebut harusnya menjadi kita bersama. Dan apa bila ada kontes yang jelas-jelas mempertontonkan aurat perempuan (seperti miss world) maka harus di tolak. Belum di adakan kontes miss world di Indonesia saja moral generasi kita sudah sangat mengkhawatirkan bagaimana lagi bila benar akan di adakan di negeri kita?

Nilai Perempuan

Sekalipun Panitia kontes miss world telah mendatangi Gubernur Jawa Barat pada Kamis (4/4/2013) lalu dan mendapatkan dukungan dengan syarat tidak ada penampilan bikini. “Ajang Miss World ini berbeda dengan ajang sejenis lainnya karena saat puncak acara tidak menggunakan bikini, Insya Allah lebih sopan,” kata Ahmad Heryawan. Sekali pun demikian ini tidak dapat di tolerir.

Karena penilaian ‘cantik’ itu menyangkut ideologi. Apapun namanya, kontes kecantikan itu benang merahnya cuma satu: mencari perempuan tercantik fisiknya untuk dieksploitasi. Itu sudah menjadi ideologi kontes kecantikan sejak dulu.

Ini akan merusak budaya dan moral negeri kita bila idiologi ini mendapat dukungan. Apa bila pemerintah atau pihak-pihak tertentu mengadakan kontes ini, maka masyarakat akan tercemari pemikirannya tentang menilai seorang perempuaan.

Pada hal nilai seorang perempuan ditentukan oleh ketakwaan dan sumbangsihnya bagi kebaikan dan perbaikan masyarakat. Karenanya perempuan yang mulia bukanlah yang paling aduhai bodinya, mulus kulitnya atau proporsional ukuran fisiknya, melainkan yang berdedikasi mencurahkan waktu, ilmu dan hartanya untuk kemaslahatan masyarakat.

Gerakan Menjaga Moral Bangsa

Sampai tulisan ini di buat gelombang ‘tsunami’ penolak miss world terus meluas baik di masyarakat sampai di jejaring sosial dunia maya. Informasi terakhir di dapat penulis, bahwa masa karantina kegiatan kontes ini akan diadakan di Nusa dua Bali, info terakhir juga akan ke Jogja. Kemudian acara puncak akan dilaksanakan di SICC Bogor pada tanggal 28 September 2013. Terkait acara ini ternyata belum masuk pada beberapa petinggi negara. Sedangkan yang mendukung pelaksanaan ini di Indonesia tak lain adalah MNC group yang notabene di dalamnya ada Liliana Tanoesoedibyo selaku pendiri yayasan Miss Indonesia.

Maka perlu kita pahami rusaknya gedung di negeri ini dapat kita perbaiki namun rusaknya moral negeri ini tak semudah itu memperbaikinya. Karena moral dan budaya suatu bangsa adalah pilar penting menjaga keutuhan suatu bangsa.

Indonesia sebagai negeri yang berbudaya timur dan bangsa bermoral tentunya harus mengatasi nilai-nilai menyimpang yang berusaha melepaskan budayanya. Dengan usaha inilah bangsa Indonesia mampu bertahan bahkan berkembang dalam persaingan global. Oleh Karena itu peran samua pihak sangat perlu di lakukan  guna menjaga moral bangsa ini. Wallahualam

(esqiel/muslimahzone.com)