Orang Kafir Bekerja di Perusahaan Orang Islam

0
15

Oleh: Ustadz Ammi Bur Baits

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Secara umum, kaum muslimin diperbolehkan memperkerjakan orang kafir di perusahaan atau lembaga milik orang islam. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal ini. Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan dalam judul bab,

باب إِذَا وَكَّلَ الْمُسْلِمُ حَرْبِيًّا فِى دَارِ الْحَرْبِ ، أَوْ فِى دَارِ الإِسْلاَمِ، جَازَ

Dibolehkan orang muslim mewakilkan orang kafir harbi di negeri harbi, atau di negara islam. (Shahih Bukhari, 8/349).

Dan pendapat fiqih Bukhari, bisa diketahui dari setiap judul bab dalam shahihnya.

Kemudian Imam Bukhari menyebutkan hadis dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَاتَبْتُ أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كِتَابًا بِأَنْ يَحْفَظَنِى فِى صَاغِيَتِى بِمَكَّةَ ، وَأَحْفَظَهُ فِى صَاغِيَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Saya menulis surat kepada Muawiyah bin Khalaf untuk menjaga kerabatku di Mekah, dan aku akan menjaga kerabatnya di Madinah. (HR. Bukhari 2301).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan maksud Bukhari,

ووجه أخذ الترجمة من هذا الحديث أن عبد الرحمن بن عوف وهو مسلم في دار الإسلام فوض إلى أمية بن خلف وهو كافر في دار الحرب ما يتعلق بأموره والظاهر اطلاع النبي صلى الله عليه و سلم عليه ولم ينكره قال بن المنذر توكيل المسلم حربيا مستأمنا وتوكيل الحربي المستأمن مسلما لا خلاف في جوازه

Imam Bukhari berpendapat demikian untuk hadis ini, karena Abdurrahman bin Auf adalah seorang muslim yang tinggal di negeri muslim. Beliau menyerahan urusan kepada Umayah bin Khalaf, orang kafir yang berada di negeri harbi (negara musuh islam), terkait dengan urusannya. Nampaknya, ini atas sepengetahuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya. Ibnul Mundzir mengatakan, orang muslim mewakilkan suatu urusan kepada orang kafir harbi atau kafir mustakmin, atau sebaliknya, orang kafir mewakilkan kepada orang muslim, diperbolehkan tanpa ada perbedaan pendapat ulama.
(Fathul Bari, 4/480).

Kaum muslimin boleh memperkerjakan orang kafir, dalam urusan yang tidak mempersyaratkan harus dikerjakan orang muslim dan jujur. Karena itu, orang murtad juga boleh bekerja di lembaga kaum muslimin.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن وكل مسلم كافرا فيما يصح تصرفه فيه صح توكيله سواء كان ذميا أو مستأمنا أو حربيا أو مرتدا لأن العدالة غير مشترطة فيه وكذلك الدين كالبيع وإن وكل مسلما فارتد لم تبطل الوكالة سواء لحق بدار الحرب أو أقام. وقال أبو حنيفة : إن لحق بدار الحرب بطلت وكالته لأنه صار منهم

Orang muslim yang mewakilkan urusannya kepada orang kafir dalam urusan yang boleh dikerjakan, status mewakilkannya sah. Baik dia kafir dzimmi, mustakmin, harbi, maupun orang murtad. Karena sifat adil (jujur dan baik) dalam ini bukan menjadi syarat. Demikian pula utang, seperti dalam jual beli. Jika ada orang muslim yang mennjadi wakil, lalu dia murtad, maka status transaksi mewakilkan tidak batal. Baik dia pindah ke negeri kafir atau tetap tinggal di negeri muslim.

Sementara Abu Hannifah mengatakan, jika orang mustad tadi pindah ke negeri kafir, maka transaksi mewakilkan menjadi batal, karena orang ini menjadi bagian dari mereka.
(al-Mughni, 5/245)

Tidak Boleh di Posisi Strategis

Para ulama memberikan batasan, tidak boleh memperkerjakan atau menunjuk orang kafir di posisi strategis. Seperti posisi yang menentukan kebijakan yang menyangkut hajat kaum muslimin atau posisi yang memunngkinkan mereka menipu kaum muslimin.

Para ulama berdalil dengan keterangan dari sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu,

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ كِتَابِ يَهُودَ. قَالَ « إِنِّى وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ ». قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhku untuk belajar bahasa tulisan orang yahudi. Beliau bersabda, “Demi Allah, saya tidak mempercayai orang yahudi untuk menerjemahkan surat.”
Kata Zaid, ‘Hanya dalam waktu setengah bulan, saya bisa menguasai bahasa yahudi. Setelah saya memahaminya, apabila beliau hendak mengirim surat ke orang yahudi, saya yang menulisnya. Dan jika beliau mendapat surat, saya yang membacakan surat mereka.’ (HR. Abu Daud 3647, Turmudzi 2933 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam Aunul Ma’bud, Syarh Sunan Abu Daud, dinyatakan,

أي أخاف إن أمرت يهوديا بأن يكتب كتابا إلى اليهود أو يقرأ كتابا جاء من اليهود أن يزيد فيه أو ينقص

Artinya, beliau khawatir, ketika beliau memerintahkan orang yahudi untuk mengirim surat ke suku yahudi lainnnya atau membacakan surat dari yahudi, akan ditambah-tambahi atau dikurangi. (Aunul Ma’bud, Syarh Sunan Abi Daud, 10/56)

Dalil lain yang menunjukkan kesimpulan ini adalah hadis dari A’isyah Radhiyallahu ‘anha, yang menceritakan kisah hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah ke Madinah. A’isyah mengatakan,

اسْتَأْجَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلاً مِنْ بَنِى الدِّيلِ ثُمَّ مِنْ بَنِى عَبْدِ بْنِ عَدِىٍّ هَادِيًا خِرِّيتًا – الْخِرِّيتُ الْمَاهِرُ بِالْهِدَايَةِ – قَدْ غَمَسَ يَمِينَ حِلْفٍ فِى آلِ الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ ، وَهْوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ ، فَأَمِنَاهُ فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا ، وَوَعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، فَأَتَاهُمَا بِرَاحِلَتَيْهِمَا ، صَبِيحَةَ لَيَالٍ ثَلاَثٍ ، فَارْتَحَلاَ ، وَانْطَلَقَ مَعَهُمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ ، وَالدَّلِيلُ الدِّيلِىُّ فَأَخَذَ بِهِمْ أَسْفَلَ مَكَّةَ وَهْوَ طَرِيقُ السَّاحِلِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu, menyewa seseorang dari bani ad-Dil dan bani Abd bin Adi sebagai penunjuk jalan dan pakar peta. Mereka bagian dari kerabat al-Ash bin Wail. Ketika itu, dia beragama sepeti musyrikin quraisy. Nabi dan Abu Bakr mempercayai orang ini dan menyerahkan tungganggnya kepada mereka. Mereka janjian untuk bertemu di gua tsaur 3 hari lagi. Orang inipun datang dengan membawa tunggangannya di pagi malam ketiga. Lalu mereka berangkat. Dan Amir bin Fuhair juga ikut bersama mereka. Si penunjuk jalan mengambil jalur pantai. (HR. Bukhari 2263).

Imam Ahmad berpendapat bolehnya bekerja sama dengan orang yahudi dan nasrani, dengan syarat tidak ada peluang bagi mereka untuk menguasai kekayaan perusahaan, dan tidak boleh mengurusi kekayaan tanpa didampingi orang islam. Hanya orang islam yang mengurusi kekayaan, karena yahudi dan nasrani menerapkan sistem riba. (simak al-Mughni, 5/3)

Dalam kitabnya ayatul ahkam, as-Shabuni menjelaskan pendapat mayoritas ulama,

أما استخدام الكافر في عمل لا ولاية فيه، كنحت الحجارة والبناء والنجارة، فلا يظهر دخوله في المنع، وهذا قول جمهور الفقهاء

Memperkerjakan orang kafir dalam urusan yang bukan posisi strategis, seperti tukang batu, kuli bagungan, atau tukang kayu, tidak termasuk dilarang. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. (Rawai’ al-Bayan, 1/574).

Dr. Sa’duddin al-Kabi mengatakan,

وقد عامل رسول الله صلى الله عليه وسلم اليهود في المزارعة وهو عمل محدود ومقيد بالزراعة. وإذا جاز عمل المشرك فيما لا ضرر فيه ولا ولاية، كالمزارعة، جاز في غيرها

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperkerjakan orang yahudi untuk mengurusi kebun kurma, dan ini pekerjaan terbatas, hanya mengurusi kebin kurma. Jika dibolehkan memperkerjakan orang musyrik dalam urusan yang tidak membahayakan dan tidak memberi kesempatan mereka untuk berkuasa, semacam ngurusi pertanian, berarti boleh untuk kasus lainnya. (al-Mu’amalat al-Maliyah al-Mu’ashirah, hlm. 674)

Allahu a’lam.