Sistem Ekonomi Islam (3)

0
14

Sekarang kita telaah nash (teks) Al-Qur’an secara rinci dalam pelajaran ini :
Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (261)

Sesungguhnya undang-undang (peraturan) ini tidak dimulai dengan kewajiban (Fardhu) dan beban (taklif). Akan tetapi dimulai dengan motivasi dan menyatukan hati. Dengan demikian dapat membangkitkan semangat dan persaaan yang hidup dalam segenap diri masnusia. Sesungguhnya ia juga dapat menampilkan gambaran kehidupan yang bergerak, berkembang dan memberi. Itulah gambaran pohon (tumbuhan. Sebuah pemberian bumi yang bersal dari Allah. Pohon yang memberi berlipat ganda dari apa yang dia ambil. Dia memberikan nilai yang termahal dari dirinya dengan berlipatganda jika dibanding dengan nilai bibit/benihnya.

Gambaran yang menginspirasikan ini memberikan perumpamaan bagi orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah. Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji.

Sesungguhnya makna yang dapat ditangkap akal dari ungkapan tersebut berakhir pada aktivitas berhitung secara matematis yang satu biji berlipat ganda menjadi 700 biji. Adapun pemandangan yang hidup yang ditampilkan ungkapan tersebut jauh lebih luas dan lebih indah serta lebih membangkitkan perasaan dan lebih berpengaruh pada hati. Itulah pemandangan yang hidup dan berkembang. Pemandangan alami yang hidup. Sebuah pemandangan tanaman yang menghasilkan. Kemudian pemandangan yang ajaib dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Sepohon kayu yang memiliki tujuh cabang dan setiap cabang memiliki buah 100 biji.

Dalam kafilah kehidupan yang berkembang dan memberi, mampu mengarahkan hati manusia untuk mencurahkan dan memberikan apa yang dia miliki. Pada hakikatnya tidak memberi, tapi menerima dan tidak berkurang, tapi bertambah. Gelombang memberi dan tumbuh itu melaju dalam perjalanannya. Gelombang itu mampu melipatgandakan perasaan yang dibangkitkan oleh pemandangan pohon/tanaman dan hasilnya. Sesungguhnya Allah melipatgandakan bagi orang yng dikehendakinya. Dia melipatgandakan tampa hitungan dan perkiraan. Dia melipatgandakan orang yang diberi-Nya rezki yang siapapun tidak dapat mengetahui batasnya.

Di antara kasih sayang-Nya yang dicurahkan, seseorang tidak akan mengetahui keluasannya. { والله واسع عليم } : Kata ‘wasi’ : tidak akan pernah sempit pemberiannya, tidak terbatas dan tidak habis. Kata ‘’Alim’ : Mengetahui bibit/benih dan mengokohkannya dan tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Akan tetapi, infak yang mana yang tumbuh dan berkembang itu? Pemberian yang mana yang dilipatgandakan Allah di dunia dan Akhirat bagi orang yang dikehendaki-Nya itu? Itulah infak yang mampu menghormati perasaan kemanusiaan dan tidak mengotorinya. Infak yang tidak menyakiti kemuliaan dan tidak melukai perasaan. Infak yang lahir dari kesenangan dan kebersihan jiwa dan berorientasi hanya kepada Allah seraya mencari ridha-Nya.

Orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang diinfak-kannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(262)

Cercaan (menyebut-nyebut pemberian) itu unsur kebencian tercela dan perasaan redahan. Jiwa manusia pada dasarnya tidak menyebut-nyebut apa yang dia berikan kecuali ada keingingan merasa lebih tinggi dan kebohongan, atau keinginan untuk meremehkan yang menerimanya, atau keinginan untuk memancing perhatian orang lain. Saat itu, orientasinya bukan lagi kepada Allah, melainkan kepada manusia.

Semua prilaku itu itidak akan bersemi dalam diri yang baik dan tidak akan terlintas dalam hati seorang Mukmin. Karena menyebut-nyebut itu menggantikan sedekah menajadi rasa sakit bagi yang menerima dan yang memberi. Rasa sakit bagi sipemberi karena membangkitlkan dalam dirinya rsa sombong dan ketinggian dengan keinginan melihat saudaranya rendah dan bertekuk lutut padanya. Sebagaimana juga akan memenuhi hatinya dengan nifaq (ambivalence), riyak dan jauh dari Allah. Sakit bagi yang menerima karena menimbulkan ras rendah diri dan kekalahan dalam dirinya yang berakibat lahirnya rasa iri hati dan balas dendam….

Islam sama sekali tidak menginginkan infak itu hanya sekedar menutupi kekosongan, mengisi perut dan sekedar memenuhi kebutuhan. Bukan itu…. Sesungguhnya yang diinginkan Islam (dari sistem ekonomi ini), adalah edukasi, penyucian dan pembersihan jiwa yang memberi, melahirkan perasaan kemanusiaan, hubungan persaudaraan dengan saudaranya yang miskin seagama dan sesame manusia, dan peringatan baginya akan nikmat Allah serta janjinya dengan Allah tentang nikmat itu bahwa dia akan memakannya tanpa berlebihan dan tanpa menghambur-hamburkannya serta untuk diinfakkan di jalan Allah, tanpa harus kikir dan tidak pula melakukan cercaan.

Demikian pula, Islam menginginkan kerelaan dan ketenagan bagi jiwa sipenerima, penguat hubungan dengan saudaranya seagama dan sesama msnusia, sebagai penutup bagi ketimpangan Jamaah (kumunitas) suapay tegak di atas dasar takaful (saling menopang) dan ta’awun (saling menolong) yang mengingatkannya akan kesatuan bangunan, kesatuan hidup, kesatuan orientasi dan kesatuan beban. Sedang cercaan itu akan menghapus semua makna tersebut dan akan menempatkan infak itu menjadi racun dan api. Dia merupakan kesakitan kendati tidak diiringi dengan kesakitan lain dari tangan dan lidah. Dia adalah kesakitan itu sendiri yang akan menghapuskan nilai infak, mencabik-cabik masyarakat dan memancing lahirnya rasa kebencian dan hasad.

Sebagian peneliti kejiawaan saat ini menetapkan bahwa impact alami dalam jiwa manusia bagi suatu kebaikan (yang dia terima dari orang lain) pada suatu hari akan menjadi permusuhan. Mereka berdalih bahwa sipenerima merasakan kekurangan dan kelemahan di hadapa sipemberi. Perasaan ini akan selalu bergelora dalam dirinya. Sebab itu, ia akan mencoba mengatasinya dengan menyerang yang memberinya dan menyembunyikan permusuhan. Karena dia selalu merasa lemah dan keurang di hadapan sipemberi tadi. Demikian juga sipemberi selalu mersakan bahwa dialah yang berjasa atas orang yang diberinya itu. Inilah perasaan yang menambah rasa sakit bagi sipenerima sehingga berubah menjadi permusuhan.

Teori tersebut bisa saja benar dalam masyarakat jahiliyah, di mana masyarakat yang tidak diliputi oleh spirit Islam dan tidak berhukum pada Islam. Adapun agama ini (Islam) telah mengobati masalah tersebut dengan cara lain. Islam mengobatainya dalam jiwa manusia dengan sebuah ketetapan bahwa harta itu adalah milik Allah. Rezki yang ada di tangan mereka adalah rezki dari Allah. Ini adalah hakikat yang tidak dibantah kecuali oleh orang yang bodoh terhadap sebab-sebab rezki yang jauh maupun yang dekat. Semuanya pemberian Allah di mana manusia tidak kuasa sedikitpun atasnya. Satu biji gandum telah tertlibat dalam pengadaannya berbagai kekuatan dan energy alam dari matahari sampai bumi, air dan udara. Semua itu tidak berada dalam kemampuan manusia. Coba kiaskan satu biji gandung dengan titik air, serabutnya, dan segala sesuatu yang ada.

Bila sipemberi itu sesuatu dari hartanya, maka sesungguhnya dian memberikan harta Allah yang diangrakan padanya. Bila meminjamkan sejumlah hartanya, berarti ia memberikan pinjaman pada Allah yang akan dilipatgandakan baginya. Tidalah orang yang belum beruntung itu kecuali alat dan sebab bagi yang memberi untuk meraih pemeberiaan harta Allah berlipatganda. Kemudian, Al-Qur’an masuk menejelaskan adab (tata cara infak) yang sedang kita bahas sekarang, sebagai penguat bagi pengertian ini dalam jiwa sehingga sipemberi tidak merasa tinggi dan tidak menghinakan yang menerima. Setiap dari keduanya sama-sama makan dari rezki Allah. Bagi para pemeberi akan mendapat ganjaran dari Allah jika mereka memberi dari harta Alllah dan di jalan Allah seraya berpegang teguh pada adab yang telah digariskan-Nya pada mereka dan terikat denga janji yang dijanjiakan Allah pada merka :
{ ولا خوف عليهم } Mereka tidak takut dari kefakiran, dengki dan tipu daya dan tik pula mereka bersedih { ولا هم يحزنون } . atas apa yang mereka infakkan di dunia dan tidak pula sedih menghadapi tempat kembali mereka di akhirat nanti.