Ya Allah, Semoga Aku Tidak Mendapatkan Pemberian Umar

0
37

Ummul Mukminin Zainab binti Jahsiy radhiyallaahuanha adalah salah seorang dari para shahabiyat yang terkenal dengan kezuhudannya di dunia dan (kesungguhan) dalam beramal untuk akhirat.

Diriwayatkan dari Barrah binti Rafi’ beliau berkata, “Ketika waktu pemberian telah tiba, Umar radhiyallaahu’anhu mengutus seseorang pergi ke tempat Zainab binti Jahsy radhiyallaahu‘anha untuk memberikan bagiannya, pada saat diserahkan kepadanya, dia berkata , ‘Semoga Allah memberikan ampunan kepada Umar, orang lain lebih berhak dari padaku terhadap bagian ini.’ Mereka berkata, ‘Ini semua untukmu.’ Dia mengucapkan , ’Subhanallaah’.”

Lalu dia menutup dirinya dari harta itu dengan baju dan berkata, ‘Letakkanlah dan tutuplah harta itu dengan kain.’ Selanjutnya dia berkata kepadaku (Barrah), ‘Masukkan tanganmu, dan ambil darinya satu genggam, kemudian bawalah kepada bani Fulan dan bani Fulan’ yakni dari kerabatnya dan anak-anak yatim mereka. Sehingga yang ada di balik baju tinggal sisanya saja.

Barrah berkata kepadanya, ’Semoga Allah mengampunimu, wahai Ummul mukminin, sesungguhnya kita punya hak atas harta ini.’ Dia berkata, ’Untuk kalian hanya apa yang ada di balik kain.’ Selanjutnya Barrah berkata, ’Kami mendapatkan apa yang ada di balik kain sejumlah delapan puluh dirham.’

Kemudian dia mengangkat tangannya ke atas dengan berkata, ’Ya Allah! Semoga aku tidak mendapatkan pemberian Umar lagi pada tahun yang akan datang.’ Sebelum tahun berikutnya dia pun meninggal dunia.

Dalam ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad, Zainab binti Jahsiy radhiyallaahu‘anha mendapatkan pemberian (dari Umar) sebesar dua belas ribu dirham, dia tidak mengambilnya kecuali hanya setahun. Kemudian diberikan kepadanya dua belas ribu dirham, dia berkata, “Ya Allah! Semoga aku tidak mendapatkan harta ini lagi, sesungguhnya dia adalah fitnah.” Dia pun membagikannya kepada kerabatnya dan orang yang membutuhkannya hingga dia sendiri yang mendatangi mereka.

Hal ini akhirnya terdengar oleh Umar radhiyallaahu‘anhu, dia berkata, “Ini adalah perempuan yang baik,” Kemudian dia pun mendatangi rumahnya dan mengucapkan salam kepadanya, dia berkata kepadanya, “Aku telah mendengar apa yang telah engkau bagikan.” Kemudian Umar memberinya seribu dirham untuk keperluan belanjanya, akan tetapi dia berbuat seperti pada harta-harta yang sebelumnya.

Perkataan-perkataan Zainab radhiyallaahu‘anha di atas telah memperlihatkan bagaimana dia mengharap Allah dan Hari Akhir.

Benar, perkataan-perkataannya telah menunjukkan bagaimana dia telah menjauhi dunia dan meninggalkannya, dan dia menjadikan amal shalihnya sebagai bahtera.

Lihatlah ketika dia mengatakan “Subhanallaah”. Ini adalah kalimat pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, kalimat ini menunjukkan tingginya keimanan yang telah mengakar dalam hati wanita yang beriman ini. Dia tidak ingin kalau kecintaan terhadap dunia menghinggap di dalam hatinya walau seujung jari.

Hal ini merupakan keterpautan hati yang kuat dengan Allah, Rabb sekalian alam, kecintaan yang mendalam kepadaNya dan mendahulukanNya daripada yang lain. Barangsiapa yang keadaannya seperti ini, niscaya kecintaan terhadap dunia tidak akan hinggap di dalam hatinya selamanya.

Dia tidak merasa dirinya aman dari fitnah, maka dari itu dia menyuruh menutup harta tersebut dengan kain. Dan dia mengatakan, sebagaimana riwayat lain menyebutkan, “Ya Allah ! Semoga aku tidak mendapatkan harta ini lagi.” Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengabulkan doanya, dia meninggal dunia sebelum mendapatkan harta tersebut pada tahun berikutnya.

 

(Disalin dari buku “Meneladani Wanita Generasi Sahabat”   karya Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani)

***

Artikel Muslimah.Or.Id